kontoreno

Dirimu menjadi dua dengan salah satunya berada di dalam cermin. Kaos dalam berbahan katun berwarna putih, celana panjang pantalon bertanda lipatan segaris lurus dengan tanda lipatan kemeja, sabuk kulit hitam selaras dengan pantofel yang kau pakai, sweater berbahan fleece yang hanya menyisakan kelas dasi tak lebih dari sebuah buntalan bandul di antara kerah kemeja. Tak ada yang istimewa selain keyakinan yang kau reka tentang hari ini yang akan lebih baik dari hari kemarin, meskipun apa yang lebih baik tak bisa dengan serta merta disematkan pada dua objek yang berbeda. Langit mendung hari kemarin tak bersanding berlawanan dengan bonus uang tunai di dalam amplop hari ini. Konsep kebahagiaan bukan hal baru. Versi bukan hal baru. Syukur bukan hal baru, meski terkadang terlalu dini untuk kita mensyukuri sesuatu. Kuberitahu kau: Syukur bukanlah lawan situasi dari menginginkan lebih, kau bisa saja berterimakasih pada dirimu dan mengapresiasi setiap peluh yang kau teteskan dengan tanpa berhenti menambatkan cita-cita, begitu seterusnya sampai kau benar-benar dapatkan apa yang kau rasa kau ditakdirkan untuknya. Rasa, bukan pikir. Karena intuisilah yang pada akhirnya menggiring logikamu mencari jawaban. Kau tahu itu dari kutipan-kutipan terbaik tentang intuisi versi Chrisye, Albert Einstein, Alan Turing dan beberapa nama lainnya. Betapa hidup kita adalah intisari yang tersusun atas kliping dari kutipan-kutipan terbaik tentang segala hal yang dilontarkan lusinan nama sebelum kita. Atau bahkan setelah kita.

There’s nothing special except

Antrian yang sama, halte yang sama, sejumlah angka yang sama yang mengurangi saldo di kartu pintarmu, bagian kompartemen yang sama, campur aduk harum parfum, desakan-desakan yang membuatmu tak perlu susah payah menggapai besi pegangan untuk menjaga keseimbangan agar tetap bisa berdiri di dalam bis, pemberhentian yang sama, gedung dan petugas resepsionis yang sama yang mengangkat alisnya sambil menguap saat kau menyapanya.

Di kantor kau bersalaman dengan orang yang sama yang kau salami kurang dari 12 jam sebelumnya. Kau mulai kehilangan rasa kehangatan dari bersalaman.

Kau buka kotak masuk surat elektronikmu. Dua surat dari maskapai favoritmu menawarkan promo penerbangan ke destinasi liburan dan mengenai pembukaan rute baru, tiga surat dari perusahaan penyedia pekerjaan; kau merasa harus menaikkan kisaran jumlah pendapatan yang kau inginkan setidaknya dua kali lipat; dua surat dari bank, tiga surat dari situs penyedia informasi konser yang terhubung langsung dengan pustaka musik di ponsel pintarmu. Kau merasa akhir-akhir ini kau menjadi malas, surat-surat tersebut tentunya masuk juga ke ponselmu tetapi dua belas jam terakhir kau tidak menghiraukan notifikasi-notifikasi di layar ponsel. Kau centang semua surat yang belum terbaca, kau hendak membuat surat-surat tersebut selayaknya telah terbaca dengan satu kali tekan. Matamu tertuju pada surat mengenai informasi konser sebuah grup musik Jazz.

 

*

 

Seketika kau dapati dirimu berumur 21 tahun dan baru saja lulus kuliah. Grup musik yang kau gabungi tengah naik daun, semuanya tengah berjalan luar biasa: kau naik ke atas panggung setidaknya sekali dalam seminggu, kau dapatkan bayaran yang cukup untuk menyewa tempat tinggal, kau dapatkan bayaran yang cukup untuk membayar kebutuhan harian, setidaknya dalam setahun terakhir kau berkesempatan tiga kali keluar negeri untuk melakukan tur. Kau tersenyum mengingatnya. Kau teringat rekan penabuh dram, kau berandai berada di posisinya saat hari terakhir kau bermain di atas panggung besar bersama grup musikmu.

Kau adalah Raka yang kelelahan seusai menabuh dram di sebuah kelab di Asakusa. Dengan utuh, dari mata Raka, kau bisa melihat dirimu memasukkan gitar ke dalam hardcase. Kau mendekatinya seraya menyodorkan botol bir. Kau mengajak dirimu untuk segera bergegas berkemas karena kalian hanya punya sekitar dua jam sebelum panggung berikutnya di tempat yang berbeda. Kau, sebagai Raka, mendapatkan rangkulan, disusul dengan kata-kata,

“Rampung sudah dan aku siap berangkat, Raka.”

“Ya, satu pentas lagi lantas kita akan menikmati sake di Shibuya. Yang lain sudah berada di van, kau duluan ke sana, aku bayar minuman ini dulu,” jawabmu dari mulut Raka. Kau menyaksikan semuanya dari mata Raka: dirimu meninggalkanmu menyeringai, mengedipkan mata dan mengucapkan terima kasih.

*

 

Bagai embun pagi hari, bunga-bunga segar lagi. Berkembang harapan hati. Hari bahagia menanti.

Emillia Contessa & Broery Pesulima, “Setangkai Anggrek Bulan”.

 

*

 

Kau berlari mengarah ke halte bis terdekat yang akan mengantarmu ke stasiun kereta. Kau sudah putuskan bahwa kau sudah selesai dengan zona-zona kekacauan yang kau buat sendiri selama ini. Kau sudah selesai dengan kekacauan yang sudah menjinak dengan tenang dan menjadi rutinitas. Kau sudah selesai dengan pencarian. Waktu untuk pulang sudah tiba, kau membayangkan kota halamanmu. Kau akan kembali pada semua yang pernah membahagiakan, inilah kebahagiaanmu. Kau semangat, berlari menaiki anak tangga jembatan penyeberangan dengan senyum masih menggantung di mukamu. Kau tak pernah seantusias ini. Kau rasakan dadamu terbakar. Kau hentikan larimu, mencari pegangan, menangkap napasmu. Jantungmu berdegup menderu, kau masih tersenyum. Dengan hati-hati kau melangkah turun dari jembatan penyeberangan, menyusuri undakan demi undakan. Berlari satu mil menyisakan gemetar di lututmu, kau menertawai dirimu sendiri. Getaran di lututmu tak bisa dipahami tungkai kakimu: kau terpeleset, berguling menuruni kurang-lebih sepuluh anak tangga yang tak sempat kau selesaikan. Kau sadari kepalamu membentur benda yang keras dan kau dengar suara berderak dari lehermu. Pipimu merasakan bibirmu menyeringai. Sakit sekali, tapi tak ada waktu untuk kesakitan, kau mesti segera bangun dan mencapai halte bis. Kau hampir tertidur. Di sisi trotoar sebuah jalan protokol di Jakarta.

 

Leave a Reply